red_health_apple

Bagaimana Islam menguraikan tentang “sehat” dan “sakit” menjadi penting untuk diketahui oleh setiap muslim, karena hidup manusia dari sejak dilahirkan sampai dengan meninggal, tidak akan pernah terlepas dari 2 kondisi tersebut. Pengetahuan mengenai hal tersebut juga akan sangat berpengaruh terhadap respon seorang muslim terhadap sakit yang dideritanya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mengabarkan bahwa, baik sehat (kenikmatan) maupun sakit (musibah), keduanya [bisa] sama-sama menjadi “kebaikan” bagi seorang mukmin.

Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Semua perkara (yang menimpanya) adalah kebaikan baginya dan tidaklah hal ini terjadi kecuali hanya pada diri seorang mukmin. Jika dia mendapat kebahagiaan dia bersyukur maka hal ini adalah baik baginya. Dan jika tertimpa musibah dia bersabar maka itu juga baik baginya.” (HR. Muslim).

Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah dalam bentuk kelelahan, sakit, kesusahan, kesedihan, gangguan dan kecemasan, melainkan Allah menghapuskan segala kesalahan dan dosanya dengan musibah itu, hingga duri yang menusuknya juga sebagai penghapus dosa”. (HR. Bukhari: 5318).

Jadi hal pertama yang wajib ketika seorang mendapatkan nikmat sehat adalah dengan bersyukur, baik melalui lisan maupun perbuatan sebagaimana telah dijelaskan oleh para ulama. Pun demikian ketika sakit datang menghampiri kita, sabar adalah respon pertama yang harus kita lakukan serta berharap kebaikan dari apa yang Allah tetapkan bagi kita.

Setelah kita meyakini bahwa sakit, layaknya sehat, juga memiliki kebaikan,  maka langkah selanjutnya adalah berusaha mencari sebab-sebab kesembuhan, dengan jalan yang diperbolehkan oleh syariat dan tawakal di dalamnya. Kita hanya bisa mencari sebab kesembuhan, karena hakikat kesembuhan itu adalah milik Allah Ta’ala, bukan milik para tabib atau dokter. Sedangkan bersabar di dalam proses pencarian sebab kesembuhan diperlukan karena sesungguhnya, sakit tidak akan berubah menjadi sehat kecuali telah menemukan pasangan yang tepat, yaitu obat yang tepat. Dan yang terakhir adalah mengembalikan semua urusan kepada Allah Ta’ala (tawakal).

Bisa jadi, suatu obat cocok bagi seseorang dengan penyakit A, tetapi belum tentu cocok bagi orang lain dengan penyakit yang sama. Karena kesembuhan adalah sebuah persamaan yang tersusun dari beberapa variabel yang berbeda antara setiap orang. Terkadang, bahkan untuk bisa menghasilkan persamaan yang benar [baca : sehat], kita harus menempuh jalan yang sangat panjang untuk menemukan variabel yang tepat.

“Setiap penyakit ada obatnya, dan bila telah ditemukan dengan tepat obat suatu penyakit, niscaya akan sembuh dengan izin Allah Azza wa Jalla.” (HR. Muslim).

Jadi sakit bagi seorang muslim adalah sama dengan Sabar + Ikhtiar + Tawakal

SAKIT = SABAR + IKHTIAR + TAWAKAL

Ini adalah pondasi yang setiap muslim harus yakini dan jadikan acuan dalam menghadapi sakit yang diderita.

Wallaahu Ta’ala a’lam bishshawab

Advertisements